Postingan

Khayalan Sempurna

Aku tahu mungkin kamu akan membawa senyum dibalik keletihan sepulang kerja. Kamu akan merangkul semua kesayangan. Aku tahu mungkin kamu akan sumringah menemui makanan yang tersaji di tengah meja. Bersiap diambili satu per satu. Aku tahu mungkin kamu akan mengikat diri tanpa distraksi menanyai berbagai hal dari serius hingga remeh temeh. Tentang persoalan negara hingga kutipan-kutipan dari para penyair favorit kita. Aku tahu mungkin kamu ketergantungan dalam berbagai hal denganku. Apapun yang kutentukan, tak ada bantahan dari mu. Selembar, dua lembar kain pilihanku, membuat matamu berbinar dan bangga akan terlihat bagaimana kamu di esok hari. Kita tidak pernah mengeluh kekurangan. Kekurangan ini penyatu dan penyemangat kita dalam berusaha. Kamu hadirkan senyum, peluk, dan kehangatan. Mungkin. Akan. Itu yang kutahu atau kubayangkan. Aku tahu mungkin kamu tidak sepenuhnya begini. Satu dua tebakan mungkin benar. Dua dekade perlu menunggu dulu. Tapi tepat kah seperti itu, ini. Namanya juga ...

Cara Kerja-Mu

 Jadi, seperti ini cara kerja-Mu? Membolak-balik keadaan. Dengan kasat mata ke alam pikiran. Tanpa pengetahuan, raga mendekat. Sampai akhirnya tahu, tak terduga. Permainan yang betul apik. Tepuk tangan bergemuruh. Kuasa benar diriMu. *** Daya tipu yang menjanjikan kenyamanan. Semu betul, aku tahu. Ini caraMu untuk mengingatkan. Menyadari usaha yang tidak sedikit. Hasil tidak akan berkhianat dengan usaha, betul? *** Aku diyakinkan, Kamu tidak akan mengujiku. Menguji hambaMu di luar dari kemampuannya. Aku percaya, bisa melewatinya. Ini hal mudah, seperti membolak-balikkan tangan. ***

Jangan ganggu lagi, Pikiran!

Sulit benar pergi. Bagaimana tidak, kalau ada harap yang belum terjawab. Titik yang tidak jelas memang. Tapi, sudahlah. Tolong jangan ganggu! Sudah kubilang, kalau memang belum, henti. Siapa suruh terburu. Jelas bukan keliruku. **+** Hmm, sudah kuduga akan seperti ini. Jelas-jelas itu hanya gambar. Gambar yang tak kunjung selesai. Tertumpah warna di tengah jalan. Tolong hentikan saja! Sudah kubilang, godaan (akan) taklukkanku. Siapa serah menyerah. Jelas bukan mauku. **+** Salah! Tidak benar adanya. Begitu atau begini seharusnya. Penat betul kepala. Hati terlalu membuncah.

Malaikat Kecil Itu

Jam belum lagi menunjukkan jadwal istirahat. Tapi tas sudah menggantung di bahunya. Sepertinya dia masih kelas kecil. Mendapat pelajaran di sekolah tidak juga sampai seperempat hari. Di samping kotak amal, di depan mesjid yang ramai dilalulalangi pejalan kaki dan pemotor. Dia merogoh kantong celana olahraganya. Sesekali dia melihat ke kanan dan ke kiri. Seakan ingin menyeberang. Perkiraanku meleset. Dia ternyata mengecek ada tidaknya orang yang melihatnya. Melihat dia memasukkan uang sisa jajannya ke kotak amal tadi. Kejadian baik apa lagi yang Engkau perlihatkan hari ini? Sesederhana itu membahagiakan diri. Malaikat kecil itu, tidak lebih dari seperduabelas menit berlaku. Namun Tuhan membahagiakanku hari ini dengan skenario indahnya.

Tak acuh

Mulai tak acuh Dasar kebosanan Definisi materi dan fasilitas yang tidak mampu memenangkan semua Mulai tak peduli Dasar kejenuhan Definisi marah dan kesal pun sudah tidak ada rasa Seperti itu ritme yang ada Seperti itu rima yang ada Iming-iming kesenangan semu mulai jelas polanya Lebih baik memilih henti agar tidak terulang siklus yang sama Ada tapi tiada Hadir tapi tak hadir Sayang tapi tetap sayang, Cinta Makassar, 18 Agustus 2023

Intermeso

Kita pernah punya angan, bersama. Tapi Kita hentikan itu. Aku yang selalu menjadi terdepan dalam pergerakan menuju lain. Aku serba lebih hingga takut bersenandung lirih. Ingatan Kita yang tidak biasa-biasa saja, tidak bisa berbohong dengan drama. Sekarang kaki ini mulai melambat bahkan jalan di tempat. Bersama sekelilingku, memandang dari jauh, memberikan tepuk tangan penghargaan. You all deserve them. 🍀🍀🍀

Genggam Erat Tangan Ini

Kita bersisian. Bermimpi dengan beberapa beda. Aku sadar, kamu terlelap. Naik turun nafas dari mulutmu menandai telah jatuhnya kamu dalam mimpi fatamorgana. Kamu tidak sadar, aku yang sadar. Di bawah alam sadarmu, entah apa yang terjadi. Tanganku digenggam erat. Mungkin di sana kamu menuntun ku ke suatu arah. Mungkin di sana kamu ketakutan. Atau mungkin di sana kamu mengajakku bermain di taman luas dengan segala keindahan yang tidak berlebihan. Dengan segala harap, genggaman tangan ini terus erat, melindungi, menyayangi. Makassar, 12 Feb 2023

Mimpiku Terhenti di Ikatan

Aku si penjelajah mimpi. Kamu tahu itu. Tidak jarang mimpiku kamu catat di sisi hati dan otakmu. *** Aku si penerjang mimpi. Kamu tahu itu. Tidak jarang mimpiku kamu dukung dengan sekuat tenagamu. *** Aku si penghitung mimpi. Kamu tahu itu. Tidak jarang mimpiku kamu kelompokkan dalam standar berpikirmu. *** Padahal kamu tahu, aku liar dalam bermimpi. Tidak bisa pikir ini ku kendalikan. Memang hening yang tampak. Namun, kepala berderu dengan suara mungil tercekat. *** Benar saja. Ikatan ini bagai mimpi menjadi kenyataan. Ikatan ini mengokohkan mimpi merajut cinta bersama. Ikatan ini mengekang... Ikatan ini membentur... Ikatan ini menghentikan... *** Aku si pemimpi. Sudah cukup bermimpi. Tongkat mimpi kuserahkan kepada buah hati. Atau aku takut gagal dalam mimpi. *** Terkekang...terbentur...terhenti... HILANG 

Tak Perlu Inder dan Saru

Tak perlu Inder dan Saru.. Kisah kita di sini sudah cukup mengenaskan.. Tak perlu Inder yang harus bersusah payah menuliskan pesan-pesan dibalik kartu.. Tak perlu Saru yang harus begitu taat pada tradisi.. Tak perlu Inder yang harus memilah calon mempelai pria untuk kesayangannya.. Tak perlu Saru yang harus merombak dirinya menjadi orang lain.. Tak perlu Inder yang harus berurusan dengan polisi India hanya untuk sekedar mengirim suara.. Tak perlu Saru yang harus menanggung sakit akibat beban pikiran berlebihan.. Cukup MAAF dan AKU MENCINTAIMU.. Peluk cium ucapan di pagi ini, sudah sangat cukup! #SanamTeriKasam

Manusia Ramai Memilih Sepi

Aku menikmati sepi. Dalam sepi kurasa ramai. Namun, kadang terlupa. Aku manusia ramai. Banyak peran harus dijalani. Sering agar tak hancur diri, angan harap kuhancurkan. Maaf tidak meninabobokkanmu. Maaf tidak memandirikanmu. Tidak lagi kuberkata maaf untuk sikapmu. Aku manusia ramai. Terbiasa ramai dalam sepi. Dalam ramai aku hanya orang lain. @ (anggap saja) rumah 3 Juli 2022

"Aksara Waktu Senggang"

 "KAPAN WAKTU TERBAIK UNTUK MEMBACA BUKU?" 'SEJAK KUBANGUN HINGGA TERLELAP LAGI' Seperti yang disebutkan semalam, membaca itu suatu kebutuhan. Minimal 5-10 menit dalam sehari, kita sebaiknya membaca. Sepakat dengan pernyataan itu. Pertanyaan selanjutnya, kapankah waktu terbaik untuk membaca? Saya pribadi pernah mencoba menerapkan jam-jam tertentu untuk membaca dari berbagai sumber. Tapi ternyata kurang efektif. Ini karena saya kurang mampu membuat kondisi saya prima di setiap waktu tersebut untuk bisa menyerap informasi. Yaa, mungkin saya masih kurang keras terhadap diri sendiri. Lalu, saya coba trik ini. Membuka media-media sumber informasi baik berupa kertas, digital, visual, maupun suara kapanpun dimanapun sesempat saya. Saya rasa cukup membuat menjadi penasaran untuk menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Tapi, masih belum efektif rasanya. Masih ada yang perlu diperbaiki.  Haruskah tetap kutentukan waktu-waktu tertentu? Haruskah kupercepat ritme menyerap informasik...

"Tempat dan Kerinduan"

 "TEMPAT APA YANG INGIN DIKUNJUNGI SETELAH PANDEMI COVID 19 BERAKHIR?" 'RUMAH' Ketika ditanya, tempat apa yang ingin dikunjungi setelah pandemi berakhir, saya bingung untuk memilih. Saya ingin ke kampus, ke tempat belanja, ke pantai, ke kampung halaman, dan lain-lain. Tidak ada tempat yang bisa kupilih karena semua memberi daya tarik yang kuat untuk dikunjungi. Kampus misalnya, saya rindu meja belajar, komputer di ruangan jurusan, rak buku dengan jejeran buku dan jurnal, pemanas air di dekat pintu masuk ruang belajar, perpustakaan, kantin, tangga darurat tempat beribadah, bahkan toilet pun kurindukan. Kampus, tempat saya bisa nyaman membuka lembaran buku dan jurnal, mencerna tulisan dan mencoba menulis lagi. Tempat belanja misalnya, saya rindu melihat-lihat barang dagangan dengan berbagai spesifikasinya. Harganya, buatan dari mana, merknya, dan lain-lain. Tanpa harus diakhiri menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang tanda transaksi sedang berlangsung. Tempat belanja...

Jujurku hilang (kah?)

 Jujur Sekarang keberanianku untuk menampakkan wajah asliku sedang menguap Sering aku sembunyi dalam balutan emoticon yang tidak menggambarkan kondisiku sebenarnya Jujur Aku berusaha menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaan dalam tulisan Khawatir akan keterbukaan membuat ranah pribadiku menjadi konsumsi publik Jujur Ketika kupilih apa yang sebaiknya kubagi dalam cerita, rasanya semua hanya keluhan Seketika mendendangkan harap, terasa semua hanya angan semu Jujur Memendam semuanya membuat rongga penat semakin luas Menutup semuanya membuat kekosongan ide semakin mantap Jujur Aku takut menuliskan hal ini #30Mei2021 #Nagoya

Ku sayang dan rindu

JnF 情愛の深い (red: Jōai no Fukai ) Penuh Kasih Sayang Entah ini tahun keberapa kita bersama menggunakan ketiga susunan huruf ini, JnF. Teringat saat itu, sepertinya masih SMP yaa. Ada yang sibuk mencari-cari nama genk (hehehe). Saya tidak ingat apa motivasi kita saat itu. Mungkin kita hanya ingin mencari dan motivasinya baru datang belakangan. Dengan kata lain kita memang polos yaa saat itu. Berbekal dari kamus bahasa Jepang milik salah satu teman di SMP, kita sibuk mencari nama yang cantik, menarik, menggugah hati. Entah kenapa saat itu harus menggunakan bahasa Jepang. Begitu banyak tanda tanya sebenarnya tapi biarkan itu menjadi misteri yaa. Saat itu sepertinya bukan bulan Juni tapi kita sepakati tanggal 6 Juni, saat dimana diputuskan kita berempat berkumpul dalam satu kelompok ini. Kita memang sempat bersama di SD tapi selanjutnya sekolah kita berpisah-pisah, kesibukan kita semakin beragam. Apa kira-kira yang membuat kita masih mengikatkan diri satu sama lain. Mungkin i...

Melarikan diri!

Lari diri sendiri Dulu sering begini Sekarang lari diri bersamanya Kali ini kulari, kami lari Banyak rencana tak terjamah Banyak rencana tak berbuah hasil Banyak nyata diluar rencana Diri menyadari, tak bisa berbuat apa Diri mengakui, lelah penat berjibaku Diri mengikhlaskan, jalannya seperti ini Ikhlas? Ikhlas tak lari, melarikan diri juang tak henti, itu kembali harap Tapi, seandainya tak perlu tapi, saya tidak sanggup Yaa, sanggupmu lari,, lari tak kencang sehingga tetap kau tertahan di dimensi satu katanya pergi tapi tak ada hasil Lari ku coba rehat dulu bukan berhenti, istirahat istirahat yg selalu manja manja yang selalu... Inilah jalannya Jalan terbaik KuasaNya maha luas KejutanNya maha asik PeraturanNya maha benar Dialah sang maha baik. 🍀

Tak perlu banyak tanya, peluk lah

Jangan bertanya-tanya alasan marah seorang istri,, apalagi menanyakan secara langsung,, hanya akan ada jawaban, tidak apa-apa atau sudah lewat,, Karena istri juga terkadang tidak paham apa yang membuatnya marah,, mungkin saja kali ini perbuatan/perkataanmu membuatnya jengkel,, tapi di lain waktu, hal itu bukan sesuatu yang buruk baginya,, Jadi ketika kau merasa istrimu sedang marah, ucapkan (dalam hatimu) a'udzubillahiminasysyaithonirrojiim,,hampiri istrimu,, ketika dia berdiri, berdiri lah bersamanya,, ketika dia duduk, duduklah bersamanya,, ketika dia berbaring, berbaringlah bersamanya,, lalu berkata lembut disamping istrimu, maaf,, Tanpa perlu panjang lebar penjelasan,, ditutup dengan suatu pelukan,, mungkin (hampir pasti) akan disingkirkan tanganmu, tapi peluk lah erat, dan berkata maafkan khilaf ku dan InSyaaAllah kuikhlaskan kekhilafan mu,, Masih dalam pelukan itu, ajaklah dia shalat berjamaah denganmu,, Jangan ditanya kenapa harus dengan tulisan, karena lisan t...

Jangan sekali-kali...

Jangan kau sekali-kali berani memiliki anak, ketika kau tahu kemampuanmu hanya sebatas mengeluh Jangan kau sekali-kali berani tinggal berjauhan, ketika kau tahu kehebatanmu hanya sebatas cemburu Jangan kau sekali-kali berani melanjutkan pendidikan, ketika kau tahu keinginanmu hanya sebatas pengakuan Jangan kau sekali-kali berani mempertaruhkan, ketika kau tahu hartamu hanya sebatas tiada Dan jangan kau sekali-kali berani menyesali, karena pilihanmu diamini Tuhan untuk menjadi jalan terbaik untuk dewasa mu,,

Cintaku, sepi kah disana?

Cintaku~ Sepikah disana?? Disini kami sepi dalam ramai~ Hampa dalam penuh~ Lelah, lelah, lelah terpisah jarak Cintaku~ Rindukah kamu?? Disini kami bercengkerama sepi~ Tersisih dari diri~ Sedih, sedih, sedih tiada pelipur lara Cintaku~ Cukupkah engkau dengan semua ini? Belum puas, terpuaskan nafsu manusia~ Rencana Tuhan memang selalu indah~ Apik teratur~ Tanpa cabik terbentur~ Cintaku~ Tenanglah~ Disaat tenangmu, di sini kami menunggumu~

Dan kumau selamanya seperti ini, bisakah?

Mungkin sedikit egois ketika kupanggil dirimu untuk  menemani ku berhadapan dengan kumpulan kata-kata ilmiah. Memanggilmu dan sedikit memaksamu untuk meninggalkan si buah hati. Tadinya kau terlelap di pangkuan, sekarang engkau lelah disamping. Memegangi kaki yang banyak orang ucap dibawahnya ada surga. Kuelus lembut rambutmu yang walaupun mulai memanjang tapi tak mengurangi rasa ingin terus membelainya. Sayang, bisakah selamanya kita berdampingan? kumohon selamanya kita bersanding <3 Toyohashi, 24 Juli 2016

Rindu~

Tak pernah diri ini merasa begitu jauh~ Beda dengan kali ini~ Jarak ini begitu terasanya sampai ke ubun-ubun~ Kami berdua disini, berusaha tegar~ kamu pun disana begitu sabarnya~ Itu terasa karena titipan ilahi sebagian dirimu yang ikut kuat bersama sebagian diriku~ Kuanggap kiasan bahwa aku dan kamu adalah kita~ Namun ini nyata~ Yaa, menuju nyata~ Kuat2lah kita,, cinta kasih mengalir lembut ke hatimu, nak~ Kuat2lah sayang,, dekapanmu terasa dekat dengan ciuman dari jauh tepat di kening~ Tak pernah kumerasa jauh, sejauh kali ini,, Tak pernah kumerasa rindu, serindu kali ini~ Kurasakan getar di suara,, apa daya aku tak tahan~ Kurasakan rindu membuncah,, apa daya tangan tak bersambut~ Diseparuh dirimu diriku, kutitipkan segenggam cinta dari Maha cinta~ Agar kau sejuk di gerahnya bersabar~ agar aku hangat di dinginnya sendiri~ 25des15